Last Update: September 5, 2010, 14:47 WIB       ENGLISH VERSION  |  BLOG  |  FACEBOOK  |  TWITTER  

Solar untuk Syamsudin dan Minyak untuk Dati

“Kamal Muara adalah kampung nelayan yang cukup padat, yang tergenang banjir rob (genangan air laut) hampir setiap hari. Tumpukan sampah dan tanah becek yang menghasilkan bau amis khas kampung nelayan menjadi pemandangan keseharian tempat itu”

Kampung Kamal Muara terletak kurang lebih 20 hingga 30 km dari pusat kota Jakarta. Kampung yang masih berada dalam kawasan kota Jakarta ini dapat dicapai dengan menggunakan Busway jurusan Harmoni-Kalideres, dilanjutkan dengan angkutan kota (angkot) yang langsung menuju ke sana. Jika lalu lintas sedang lancar, perjalanan dari kawasan Mampang, membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam.

Kamal Muara adalah kampung nelayan yang padat huni. Banjir rob (genangan air laut) setinggi mata kaki hingga rata-rata 20-30 cm, hampir setiap hari menggenangi kampung ini. Tumpukan sampah dan tanah becek, yang menghasilkan bau amis khas kampung nelayan, menjadi pemandangan keseharian tempat itu. Rumah warga saling berhimpitan rapat. Sebagian besar warga Kampung Muara mencari nafkah sebagai nelayan, penjual ikan, buruh kasar dan berjualan makanan.

Syamsudin, 45 tahun, salah seorang nelayan di Kamal Muara, menceritakan nasib para nelayan kecil di daerahnya. Kerutan di wajahnya seolah menggambarkan kesulitan yang ia dan kawan-kawannya harus hadapi untuk memperoleh solar. Solar adalah bahan bakar yang vital untuk menggerakan kapal-kapal motor, membawa nelayan melaut, mencari ikan. Ia tidak sendiri, lebih dari 40 nelayan lain di Kamal Muara juga kesulitan untuk mendapatkan solar.

Menurut Pak Udin, demikian dia biasa disapa, salah satu sebabnya adalah tidak adanya SPBU nelayan yang dekat dengan kampung tersebut. SPBU nelayan terdekat ada di Muara Angke yang hanya melayani pembelian solar dalam partai besar, minimal 1 ton solar sekali beli. Nelayan-nelayan kecil di Kamal Muara hanya membutuhkan kurang lebih 10-20 liter per hari pada akhirnya memilih membeli solar eceran daripada harus membeli ke Muara Angke yang jaraknya cukup jauh dari kampung mereka. Jika harga satu liter solar di SPBU nelayan 4500 rupiah, sedangkan harga eceran berkisar 5000 rupiah per liter. Masalah lain adalah ketersediaan solar. Tidak selalu solar tersedia di pasaran, kadang kala solar menghilang dan sukar didapat Pak Udin dan kawan-kawannya.

Perbedaan harga yang cukup jauh ini membuat nelayan di Kamal Muara banyak merugi, ditambah lagi jarak tempuh melaut nelayan yang semakin jauh akibat tercemarnya perairan laut di wilayah Jakarta yang menyebabkan makin sulitnya mendapatkan ikan di sekitar pesisir. Sekali melaut, kapal dengan kekuatan 10 GT yang memiliki jarak tempuh 6 mil membutuhkan 100 liter solar. Kapal dengan awak 3 orang (ABK) dan 1 juru kemudi bisa memperoleh tangkapan ikan senilai 1 juta dalam sekali melaut, setelah dikurangi biaya solar, konsumsi, dan dibagi dengan seluruh ABK, seorang nelayan hanya bisa membawa pulang uang sebesar 50 hingga 100 ribu per hari. Uang sebesar itu yang mau tidak mau harus mencukupi kebutuhan hidup yang semakin tinggi untuk 5 orang. Seringkali Syamsudin terpaksa tidak melalut karena angin yang buruk, tapi lebih sering lagi ia terpaksa tidak melaut karena tidak ada modal untuk membeli solar. Apalagi ketika harga solar melambung tinggi dan tidak terjangku oleh para nelayan seperti Pak Udin. Lain Syamsudin, lain Dati. Perempuan 40 tahun ini sehari-hari mencari nafkah dengan berjualan nasi uduk di samping Tempat Pelelangan Ikan Kamal Muara.

Dati adalah pencari nafkah utama untuk keluarganya. Dua dari tiga anaknya sudah lulus SMP, sedangkan anak bungsunya duduk di kelas 2 SD. Lebih dari 30 tahun Dati tinggal di Kampung Kamal Muara, dan berjualan nasi uduk. Dalam sehari ia membutuhkan 7 liter minyak tanah untuk memasak nasi uduk dan lauk pauknya. Satu liter minyak tanah harus ia beli dengan harga 7500 rupiah. Ketika ditanya alasannya tidak menggunakan kompor gas, ia menjawab kompor gas pembagian pemerintah tidak cukup untuk memasak nasi uduk dan lauknya, ia membutuhkan 3 kompor sekaligus, selain itu Dati juga merasa takut menggunakan kompor gas.

Dari penghasilannya yang mencapai 200 hingga 300 ribu rupiah perhari, separuhnya habis dia gunakan untuk membeli bahan memasak keesokan hari, ditambah 53 ribu untuk membeli minyak tanah. Keuntungan yang didapat Dati sangat sedikit, terlebih lagi saat harga minyak tanah naik hingga 10 ribu rupiah karena minyak tanah sulit didapatkan.

Selama 20 tahun berdagang nasi uduk, kehidupan Dati belum juga berubah. Rumah yang terbuat dari papan-papan kayu itu masih ia kontrak. Entah kapan Dati dapat menyisihkan lebih banyak uang untuk ditabung, terlebih dengan makin sulitnya mendapatkan bahan bakar untuk memasak. Harga bbm yang mencekik leher bagi Udin dan Dati merupakan perjuangan yang harus mereka hadapi setiap hari. Perjuangan yang membuat hidup mereka semakin terpuruk dan terbelenggu dalam kemiskinan akut.

  • Share/Bookmark


Tunjukkan dukungan Anda dengan mengisi kartu: Seruan Keadilan Iklim Kepada Negara Maju di sini dan gabunglah dalam facebook group kampanye ini, klik di sini