Gelap Desaku, Segelap Mimpi-mimpi Kami
“Kita warga sini iri atuh neng, dusun bagian selatan udah ada listrik, bagian barat udah masuk listrik. Kan kita mah juga pingin anak-anak kita bisa belajar dengan penerangan yang bener biar mereka pinter…
Demikian Bu Ayi (45 tahun) menuturkan realita hidupnya. Perempuan setengah baya yang bersahaja itu sangat dikenal di dusunnya, Dusun Ciseel, Desa Gelar Anyar, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur. Sebagai istri ketua RT di dusunnya, Bu Ayi aktif di Posyandu, selain ia juga menjadi pegiat kelompok tani yang ada diwilayahnya di bawah dampingan Bina Desa, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bekerja dalam persoalan pertanian dan pembangunan perdesaan.
Dusun Ciseel jauh di pelosok, nyaris tak tersentuh pembangunan. Untuk mencapai dusun itu butuh waktu lebih dari 3 jam melalui jalanan rusak, tidak beraspal dan berkelok-kelok. Saat musim hujan tiba, jalanan becek dan lengket, semakin mempersulit orang yang akan masuk dan keluar dusun.
Saat matahari terbenam, dusun diselimuti kegelapan dan kesunyian. Rumah-rumah warga hanya diterangi lampu cempor (lampu minyak dengan sumbu dari kain). Penerangan yang dihasilkan lampu cempor sangat minim. Selain mengeluarkan asap dan jelaga hitam, lampu ini juga menghabiskan 8 liter minyak tanah sebulannya. Ini setara dengan 80 ribu rupiah karena harga eceran minyak tanah di dusun ini 10 ribu rupiah per liter. Boleh dikata, besar uang yang dibelanjakan Bu Ayi dan puluhan warga dusun Ciseel untuk mendapatkan penerangan yang minim dan terbatas tidak jauh berbeda dengan pengeluaran warga di perumahan yang memiliki akses listrik dengan daya tersambung 900 VA per bulannya.
Ciseel bukan tidak punya listrik sama sekali. Sejumlah warga pernah membangun pembangkit listrik tenaga mikro-hidro, yang disebut warga sebagai “kincir”, memanfaatkan aliran air kecil di dusun mereka. Masalahnya, tidak semua warga punya uang untuk membangun “kincir”.
“Kincir mah biasanya orang yang pada punya duit yang bikin kincir, 1 kincir biayanya 7 juta. Orang yang baru pulang dari Saudi biasanya bawa uang banyak terus bikin kincir deh. Kemudian warga yang jadi anggota kelompok bayar Rp 10.000 per bulan untuk biaya perawatan kincir”, papar Bu Ayi.
Sayangnya, keberlanjutan listrik mikro hidro di dusun Ciseel biasanya tidak berlangsung lama. Seringkali pembangkit tidak berjalan karena dinamo dicuri, atau jika ada kerusakan warga tidak sanggup memperbaikinya.
Mendapatkan sambungan listrik PLN adalah harapan terbesar warga dusun Ciseel. Warga bahkan rela mengeluarkan uang sebesar 3,5 juta rupiah per kepala keluarga saat ada orang yang mengaku dari PLN dan sanggup membantu pengadaan listrik hingga ke dusun itu. Jumlah ini bukan jumlah yang kecil, mengingat pendapat warga Ciseel yang tidak menentu, sesuai hasil bercocok tanam mereka. Walaupun demikan nyatanya, listrik belum juga terpasang hingga kini, padahal uang tersebut sudah mereka bayarkan. Mereka tidak tahu harus mengadu kepada siapa.
Listrik bagi warga bukan hanya sekedar untuk penerangan desa, tapi lebih jauh dari itu. Bagi warga listrik adalah salah satu pendukung mereka untuk bisa tetap belajar dan menambah ilmu.
“Kita warga sini iri atuh neng, dusun bagian selatan udah ada listrik, bagian barat udah masuk listrik. Kan kita mah juga pingin anak-anak kita bisa belajar dengan penerangan yang bener biar mereka pinter. Kasihan anak-anak udah sekolah na’ jauh sekitar 7 kilo, mesti jalan kaki jalannya becek kalo ujan, rusak juga, sampe di rumah udah pada capek. Jadi konsentrasi belajar juga nteu maksimal”, ungkap Bu Ayi, sambil menerawang jauh dan tersenyum bersahaja penuh harap.
Mendapatkan pendidikan yang layak juga bukan hal yang mudah bagi warga Ciseel. Mereka harus menempuh jarak lebih dari 5-7 kilometer dari dusun ke sekolah menengah pertama dan atas. Tidak heran banyak warga yang memutuskan untuk tidak meneruskan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pelayanan kesehatan juga jadi barang mewah buat mereka. Saat ini posyandu menjadi satu-satunya akses kesehatan warga, itupun hanya buka 1 minggu sekali setiap hari sabtu.
Kondisi alam dusun itu menyulitkan warga untuk mengakses fasilitas program pembangunan. Satu-satunya program yang masuk ke Ciseel adalah PNPM Mandiri Pedesaan. Sayangnya hasil dari Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) tahun 2008 lalu, yang mengusulkan pembangunan jalan aspal ke dusun itu mengalami kendala karena hilangnya 12 drum dari 60 drum aspal yang harusnya didapatkan dusun itu. Jalan sepanjang 1500 meter itupun tidak terbangun secara optimal.
Sampai saat ini, warga Dusun Ciseel masih menantikan masuknya listrik. Satu-satunya alternatif listrik bagi mereka adalah listrik mandiri yang memanfaatkan tenaga air untuk membangun pembangkit listrik mikrohidro. Kendala dana, kemampuan pengelolaan, dan pengetahuan teknis menjadi batu sandungan untuk pemanfaatan tenaga listrik yang berkelanjutan. Listrik bagi warga Ciseel berarti jalan bagi mereka untuk menerangi desa dan mimpi-mimpi mereka untuk maju.



